Kalau Ingin Mengumpulkan Madu Jangan Tendang Sarang Lebahnya
Dewi Purwati
Kritik adalah sebuah pernyataan yang menempatkan seseorang dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya, dan membangkitkan rasa benci.
B. F Skinner yang kita kenal sebagai seorang psikologi terkenal di dunia membuktikan lewat pengalaman-pengalamannya. Bahwa seekor binatang yang diberi hadiah karena tingkah laku baik, akan belajar jauh lebih cepat dan menyimpan apa yang dipelajarinya dengan jauh lebih efektif, dibandingkan dengan dengan seekor binatang yang dihukum karena bertingkah laku buruk.
Studi-studi berikutnya menunjukkan bahwa hal yang sama juga berlaku pada manusia. Dengan mengkritik kita tidak membuat perubahan yang langgeng (baca : konsisten) dan justru seringkali malah menimbulkan rasa benci.
Hans selye, seorang psikolog besar berikutnya berpendapat bahwa kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita kepada kritik. Rasa benci yang ditimbulkan oleh kritik dapat menurunkan semangat kerja seseorang, keluarga, maupun kawan-kawan, dan tetap tidak memperbaiki situasi yang dikritik.
Masih ingatkah dengan kisah George B. Johnston dari Enid, Oklahoma (seorang koordinator keamaanan sebuah perusahaan rekayasa). Sebagai seorang koordinator keamanan salah satu tanggung jawabnya adalah memastikan bahwa para bawahannya (baca : pekerja) harus memakai topi pengaman pada saat mereka berada di tempat kerja lapangan. Dia mengindir bahkan mengancam akan melaporkan kepada atasan jika melihat salah satu bawahannya tidak mengenakan topi pengaman. Sang koordinator keamanan tersebut berbicara panjang lebar peraturan yang harus dipatuhi. Hasilnya, dia mendapat penerimaan yang tidak simpatik dari bawahannya (baca : pekerja) yang merasa kesal. Seringkali justru yang terjadi setelah dia pergi adalah para pekerja itu menanggalkan topi-topi mereka.
Melihat kejadian semacam ini, George memutuskan untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Saat berikutnya bila ia menemukan bawahannya (baca : pekerja) yang tidak memakai topi pengaman. Dia lantas menanyakan dengan penuh simpati apakah topi itu tidak nyaman dipakai atau apakah topi itu tidak cukup pas untuk digunakan mereka.
Dia mencoba mengurangi kritik kepada para pekerja, dan membanyak ungkapan halus bernada simpati.Dia mencoba memahamkan kepada para pekerja itu bahwa topi pengaman tersebut dirancang untuk melindungi mereka dari kecelakaan dan menyarankan agar mereka melindungi diri mereka dengan mengenakan topi selama di tempat kerja. Hasilnya, kesadaran untuk mematuhi peraturan terbentuk tanpa rasa benci dan kesal.
Anda akan mendapatkan contoh-contoh tentang kesia-siaan dari kritik dalam ribuan halaman sejarah. Dan anda pula akan menemukan penyesalan sejauh sejarah hidup anda atas kritik-kritik anda yang kurang membangun. Demikianlah bila kritik yang dibangun di dalam kerja tidak sesuai diimplikasikan.
Bagaimana dalam dunia pendidikan anak?
Seperti yang kita kenal, bahwa pendidikan pertama seorang anak adalah keluarganya. Seringkali orang tua (baca : pendidik pertama) secara sengaja maupun tidak sengaja tergoda untuk mengkritik anak mereka. Dengan harapan anak peka dan segera mengembalikan kesadaran anak untuk melakukan suatu hal. Acap pula orang tua mengatakan jangan sebagai ungkapan larangan atau penolakan akan suatu hal tertentu. Tetapi kita tidak sedang hendak mengatakan hal itu. Sebelum berfikir jauh untuk mengkritik mereka (baca : anak). Bacalah junal klasik Amerika yang berjudul "Ayah Juga Lupa".
"Ayah juga lupa" adalah satu dari tulisan-tulisan kecil -- ditulis dengan perasaan tulus -- menggugah hati begitu banyak pembaca sehingga menjadi satu tulisan yang banyak disukai. Sejak munculnya tulisan berjudul "Ayah Juga Lupa" karya W. Livingstone Larned yang juga sebagai seorang ayah lantas banyak para orang tua (baca : ayah) tertampar untuk memikirkan kembali kata-kata yang keluar sebelum diucapkan.
Pembaca kompasiana tentu akan ikut merenung dengan tulisan yang satu ini.
Dengar nak, ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelum tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamar tidurmu.Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuam sesal yang amay dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal hal yang Ayah pikirkan, Nak ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kai sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau menelan terburu buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoles mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah mengejar kereta api, kau berpaling dan melaimbaikan tangan sambil berseru, "selamat jalan ayah". Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "tegakkan bahumu!".
Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu ayah muncul dari jalan. Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmh yang sedang bermain kelereng bercampur lumpur. Ada lubang dikoas kakimu. Ayah memarahimu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaos kaki mahal -- Rusak maka kau akan membelinya, berhati-hatilah! Bayangkan itu keluar dari pikiran seorang Ayah.
Apakah kau ingat nantinya ketika ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan perasaan terluka dalam matamu. Ketika ayah terus memandang koran, tidak sabar dengan gangguanmu, kau jadi ragu di depan pintu.
Kau tidak berkata sepatah kata apapun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah ayah. Kau menaruh tanganmu melingkari leher ayah,dan mencium ayah, tangan mu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat. Laksana kehangatan Tuhan yang telah ditetapkan untuk mekar di hatimu yang bahakan pengabaian sekalipun tidaj akan mampu melemahkan ataupu melayukannya. Dan setelah itu kau kemudian pergi dan menaiki anak tangga.
Setelah kau pergi nak. Sesaat itu koran jatuh dari tangan, rasa takut yang menyakitkan menerpa rasa seorang ayah. Kebiasaan apa yang sudah seorang ayah lakukan. Kebiasaan dalam menemukan kesalahan -- kebiasaan ayah mengkritik -- kebiasaan ayag berteriak pada anaknya. Ayah lakukan ini karena ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun tahun ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hak yang bak dan benar dalam sifatmu. Hati mungilmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spotanmu saat menghambur masuk dan mencium ayah. Tidak ada masalah malam ini.
Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah, ayah tahu kau tidak akan mengerti hal hal yang ayah sampaikan seperti ini. Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita dan tertawa bila kau tertawa.
Ayah terlalu khawatir membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun saat ayah memandangmu sekarang meringkuk berbaring dan letih dalam bayi. Kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu masih berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.
Tulisan seorang ayah di atas, sebagai ganti ungkapan atas kritik maupun keinginan menuntut serta mencerca seseorang, melainkan mencoba memberikan sebuah pengertian. Berubaha mengerti mengapa seseorang melakukan apa yang dilakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik, dan melahirkan simpati, toleransi, dan kebaikan hati. "Untuk mengenal semua, kita harus memaafkan semua".
Begitulah sifat manusia, mereka yang bersalah menyalahkan orang lain selain diri mereka sendiri. Kita semua berpotensi melakukan semua itu. Jadi apabila anda dan saya tergoda untuk mengkritik seseorang untuk masa mendatang (sebagai siapapun). Maka ingatlah kedua kisah tetsebut.
Seperti yang dikatakan Dr. Johnson : "Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya"
Mengapa kita (baca : saya dan anda) harus melakukannya?
Prinsipnya adalah kalau ingin mengumpulkan madu, jangan tendang sarang lebahnya
Monday, March 6, 2017
Tuesday, February 14, 2017
Launching Buku Balinesia Karya BKI UIN Sunan Kalijaga
Launching Buku Balinesia Karya BKI UIN Sunan Kalijaga
Pembuatan buku diprakrasai oleh Dewi Purwati Mahasiswi BKI UIN Sunan Kalijaga dengan bantuan Hanif I H. Keduanya telah berhasil mengumpulkan mahasiswa BKI yang studi tour ke Bali menulis semua perjalanannya.
Buku ini bercerita tentang berbagai kisah-kisah yang cukup asik dan unik, mulai dari ulasan informatif yang renyah untuk dibaca, sampai yang sedikit ilmiah dengan sentuhan analisis sekilas yang tidak membosankan. Bahkan hingga sarkasme yang kental dengan bahasa satir yang menggelitik pikiran kita. Tentu memori dan roman yang cukup romantis membuat buku ini cocok dibaca siapa saja. Khususnya bagi yang ingin berkunjung ke Bali.
Buku ini adalah cerita perjalanan para mahasiswa, dosen dan sekelumit kisahku saat mengunjungi pulau Dewata. Memang bagi sebagian orang, apalagi yang sudah pernah singgah ke Bali. Mungkin akan mengganggap buku ini tidak penting. Tetapi kami pastikan bahwa buku ini akan menjadi hiburan, informasi bahkan edukasi bagi yabg lain. Karena di dalamnya terdapat banyak kisah yang diwarnai berbagai corwk dan ilustrasi tulisan yang cukup menggoda untuk dibaca. Di sisi lain, buku ini ditulis oleh beberapa mahasiswa sebagai sebuah larya kompilasi, yang tentunya akan berbeda satu sama lain dalam mengurai cerita berdasarkan hasil pengamatannya di Bali.
Selain itu, sebagai buku karya perdana Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga, buku Balinesia membuktikan terwujudnya sebagai media usaha mahasiswa menuangkan ide dan melatih kreativitasnya dalam menulis. Hal ini sangat positif dilakukan mengingat tergerusnya kreativitas dan bakat menulis mahasiswa.
Buku Balinesia merupakan buku perjalanan yang tidak bersifat menggurui siapa pun (pembaca) melainkan agar semua pembaca dapat memetik serta menikmati hal-hal positif dari setiap perjalanan yang ada. Sesulit apapun rintangan akan begitu mudah dan indah bila di lewati dengan kekuatan cinta dan kebersamaan.
Pembuatan buku diprakrasai oleh Dewi Purwati Mahasiswi BKI UIN Sunan Kalijaga dengan bantuan Hanif I H. Keduanya telah berhasil mengumpulkan mahasiswa BKI yang studi tour ke Bali menulis semua perjalanannya.
Buku ini bercerita tentang berbagai kisah-kisah yang cukup asik dan unik, mulai dari ulasan informatif yang renyah untuk dibaca, sampai yang sedikit ilmiah dengan sentuhan analisis sekilas yang tidak membosankan. Bahkan hingga sarkasme yang kental dengan bahasa satir yang menggelitik pikiran kita. Tentu memori dan roman yang cukup romantis membuat buku ini cocok dibaca siapa saja. Khususnya bagi yang ingin berkunjung ke Bali.
Buku ini adalah cerita perjalanan para mahasiswa, dosen dan sekelumit kisahku saat mengunjungi pulau Dewata. Memang bagi sebagian orang, apalagi yang sudah pernah singgah ke Bali. Mungkin akan mengganggap buku ini tidak penting. Tetapi kami pastikan bahwa buku ini akan menjadi hiburan, informasi bahkan edukasi bagi yabg lain. Karena di dalamnya terdapat banyak kisah yang diwarnai berbagai corwk dan ilustrasi tulisan yang cukup menggoda untuk dibaca. Di sisi lain, buku ini ditulis oleh beberapa mahasiswa sebagai sebuah larya kompilasi, yang tentunya akan berbeda satu sama lain dalam mengurai cerita berdasarkan hasil pengamatannya di Bali.
Selain itu, sebagai buku karya perdana Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga, buku Balinesia membuktikan terwujudnya sebagai media usaha mahasiswa menuangkan ide dan melatih kreativitasnya dalam menulis. Hal ini sangat positif dilakukan mengingat tergerusnya kreativitas dan bakat menulis mahasiswa.
Buku Balinesia merupakan buku perjalanan yang tidak bersifat menggurui siapa pun (pembaca) melainkan agar semua pembaca dapat memetik serta menikmati hal-hal positif dari setiap perjalanan yang ada. Sesulit apapun rintangan akan begitu mudah dan indah bila di lewati dengan kekuatan cinta dan kebersamaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
