Sunday, April 12, 2015

Mendidik Tidak Bisa Mendadak



Mendidik Tidak Bisa Mendadak
Oleh : Dewi Purwati

Praaaang…..!  Sebuah gelas meluncur dari tangan anak ke lantai dan dala, sekejap pecah berkeping-keping.
Sejenak  anak akan tertuntuk dengan wajah ketakukan dan tidak berani memandang wajah bundanya? Pernahkan teman-teman mengalami hal yang seperti dewi ilustrasikan? Saya menjawab, saya pernah mengalami hal tersebut. Saat itu saya masih kelas 2 SD mungkin,,masih ingat sekali ketika tidak sengaja memecahkan gelas hiasan dirumah. Entahlah atas dasar keinginan apa aku ingin mengambil kunci dari lemari umi untuk membuka lemari hiasan yang berisi gelas hias itu. Imajinasiku saat itu hanya ingin bermain pasar-pasaran ^_^ pasar-pasaran adalah sebuatan permaianan tradisional untuk perempuan kecil usia dini bagi Orang Jawa. Biasanya permaianan ini berisi aktivitas masak-masakan, memainkan peran (role play) seperti menjadi sosok orang dewasa.
Kembali dengan gelas hias tersebut, aekhirnya aku berhasil mengmbil kuncinya. Setelah kunci tersebut berada ditanganku, dengan segera aku menuju lemari hias. Di depan lemari hias aku sudah memandang berbinar mainan yang aku angankan…hehe. Setelah mencoba memilih satu kunci untuk membuka lemari. Ternyata kunci pertama adalah kunci yang tepat. Senang buka kepayang saat itu rasanya. Akupun membuka lemari itu dan mengeluarkannya dari lemari. Dalam hati umi sedang mencuci baju asyik bisa maianan pasar-pasaran dengan gelas ini,,,mungkin begitu ilustrasi hati saya saat itu ^_^
Setelah berhasil mengambil dan terpenuhi rasa penasaran bermain gelas itu…tiba-tiba gelas hias tersebut jatuh saat aku berlari-lari membawanya. Praaaaaang……! Sebuah gelas cantik yang kupegang jatuh L aku takut….aku diam seketika. Umi yang mendengar suara pecahkan itu datang ke depan pintu.
Aku sangat takut ,,, aku tidak berani memandang umi saat itu. Rasanya pasti kali ini umi akan menjewerku, pasti aku akan dipukul karena aku kali ini benar-benar nakal dan berani mengambil gelas hias itu tanpa izin ummi padahal gelas itu mahal. Rasanya aku ingin menangis meskipun umi belum berkata-kata apapun.
Saat mulai meneteskan air mata sambil menunduk. Umi berkata : oh…pecah ya ….. Umi boleh membersihkan pecahannya?
Seketika aku senang dan berbinar-binar umi tidak marah tanpa menyuruhku untuk membersihkan pecahannya.
Setelah aku dewasa aku mulai mengerti dan mengambil pelajaran, ungkapan bahasa itu adalah cara yang terbaik dalam mendidik anak.
Saat kita kelak memiliki putra atau putri, tentu pengalaman yang saya alami mungkin bisa saja terjadi. Akan lebih baik seharusnya umi saat itu mengajakku untuk membersihkan pecahan-pecahan gelasnya. Namun saat itu umi tidak mengajakku untuk membersihkan pecahnya.
Sebab alasannya sangat sederhana, yakni mengajak merefleksikan diri atas kejadian tersebut. Dan mengajak diskusi saat ia merasa menunduk dan bersalah. Bukan dengan menyalahkan tetapi dapat membatu dengan kalimat diskusi : yang pertama, pastikan anak menggunkan sandal jepit terlebih dahulu sebelum diajak bersama-sama membersihkan, perintah anak untuk mengambil pecahan gelas yang tidak tajam bersama ibu sambil mengajak diskusi sang anak :“Nah….menurut adik, pelajaran apa yang dapat diambil dari pecahnya gelas tadi?”
Jika anak belum punya ide, mungkin kita bisa membantu  dengan menginspirasi. Misalnya dengan bertanya: ”Tangan adik basah nggih waktu memegang gelas” (“Apakah tangan adik basah ya saat memegang gelas?” ) atau kalimat lainnya. Tentu anak akan menjawab dan luluh dengan pertanyaan diskusi seperti ini. Atau bisa seperti ini : Sudah, bunda tidak marah .… adik sudah bagus mau membereskan, hanya lain kali harus sedikit hati-hati ya bagaimana setuju ? ”. Buat anak untuk  mengikat dengan persetujuan ^_^. Tentu anak akan menjawab : “Setuju ummi “
Jangan lupa peluk dan ingatkan anak setelah itu. Sangat tidak dianjurkan untuk menyampaikan kata-kata yang kasar seperti “Makanya kalau pegang gelas hati-hati doooong!!!! Atau “Makanya….hati hati dong ! ataupun berkata seperti ini. “Kok bisa pecah siiii… mau dijewer!”
Memang tidak mudah tapi mendidik tidak bisa mendadak. Sudah saatnya merubah pola asuh yang lebih bak. Dan yang perlu harus kita ketahui sebagai manusia yang dewasa adalah bahwa kejadian seperti gelas pecah, merupakan kejadian yang tidak sengaja meskipun anak nakal sehingga tidak ada niatan sedikit pun dari anak untuk melakukannya apalagi untuk memecahannya. Bahkan mungkin bisa jadi seperti kasus saya karena saya kagum ingin bermain dan memengan gelas hias tadi. Tentu itu adalah perasaan naluriah anak yakni senang dengan segala sesuatu yang menarik.
Beberapa catatan bunda yang perlu diingat kembali setelah kejadian itu berlangsung adalah ^_^
Ø  Berikan pelukan  ^_^ ingat pelukan yang terhangat dan ciuman sayang kepada anak, sambil mengungkapkan kalimat-kalimat positif. Yakinlah bunda…buah hatimu tidak berniat melakukan hal itu
Ø  Tidak perlu mengungkit-ungkit kejadian tersebut di masa yang akan datang. Kalaupun itu terulang kembali, lakukan penanganan dengan cara yang sama. Ingat tidak dengan marah-marah dan sewot ^_^ Bukankah seorang penari piring membutuhkan banyak sekali latihan supaya piring-piring yang dibawa tidak jatuh bunda?
Ø  Ketika orang tua lebih memilih menolong dibanding mengomel, kelak anak akan menemui permasalahan dlam hidupnya, dia akan lebih memilih mencari solusi dibanding mengeluh atau marah-marah.

Ilustrasi Inspiratif



Ilustrasi Inspiratif
Oleh      : Dewi Purwati

Semoga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari ilustrasi yang pendek ini, oleh-oleh thalabul ilmi ^_^
Seorang anak kecil mengeluh kepada ayahnya karena sifatnya yang suka marah. Jika ia kurang suka dengan sikap temannya, marah apabila digoda teman-temannya, bertengkar dengan kakak adiknya, ngambek, apapun yang tidak sesuai dengan kata hati dan keinginannya, ia marah. Sang ayah menghadiahkan sekotak paku dan palu kepada anak tersebut.
Ayah berkata kepada anak tersebut,”Jika kamu marah, tahanlah kemarahan itu dengan memaku satu paku saja didi(sambil menunjuk kearah dinidng ) dan setiap kamu marah lagi pakul agi  satu lagi pada dinding itu.
Akhirnya anak itupun menjalani kehidupannya. Setiap kali marah, ia pun memaku dinding dengan satu paku. Sampai akhirnya anak tersebut bisa mengendalikan diri untuk tidak marah lagi. Dia merasa capek karena setiap kali marah harus memaku dinding halaman tersebut.
Setelah bisa mengendalikan sifat marahnya, ayahnya berkata,” Setiap kali kamu bisa menahan marah, cabutlah satu paku yang telah kamu tempelkan di dinding halaman”
Sang anak pun beruasaha untuk dapat menahan marahnya setiap hari dan setiap kali ia menahan marahnya ia mencabut paku tersebut. Akhirnya, di dinding tersebut tidak ada paku sedikit pun.
Setelah tidak ada paku yang menempel di dinding, anak tersebut berkata kepada ayahnya bahwa ia sudah dapat menahan marahnya.
Setelah mengaduan anaknya, sang ayah pun mengajak anak tersebut untuk mengamati dinding yang sudah tidak ada pakunya sambil berkata,”Lihatlah apa yang terjadi dengan dinding halaman itu anakku”.
Dahulu dinding itu bersih dan tidak ada kotoran atau lubang, tetapi  lihatlah sekarang, saat ini di dinding itu sudah banyak lubang bekas paku yang engkau tempelkan. Apa yang kau lihat anakku?
Sang anak belum begitu mengerti apa maksud dari sang ayah. Ayahpun merangkul sang anak dan berkata,” Adakah bekasannya padahal kau telah mencabut seluruh paku dari dinding itu? Anak menjawab,”Iya ayah berbekas lubang dalam sekali” Pelajaran yang berharga bahwa janganlah suka marah karena bisa jadi kemarahan kita akan membekas pada diri orang yang kita marahi tersebut.
Ayah adalah sosok pria  hebat yang begitu dekat dengan anak setelah ibunya. Dari ayah anak belajar menjadi manusia yang dewasa. Belajar menjadi seorang pemimpin, mau bertanggung jawab dan displin. Berfikir secara logis dan rasinonal. Bukan berarti berambisi memenuhi nafsu. Namun berjalan dengan hati nurani & value. Demikian pentingnya sosok seorang ayah dalam sebuah rumah tangga.
Wallahu’alam