Monday, March 6, 2017

Kalau Ingin Mengumpulkam Madu Jangan Tendang Sarang Lebahnya

Kalau Ingin Mengumpulkan Madu Jangan Tendang Sarang Lebahnya

Dewi Purwati

Kritik adalah sebuah pernyataan yang menempatkan seseorang  dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya, dan membangkitkan rasa benci.

B. F Skinner yang kita kenal sebagai seorang psikologi terkenal di dunia membuktikan lewat pengalaman-pengalamannya. Bahwa seekor binatang yang diberi hadiah karena tingkah laku baik, akan belajar jauh lebih cepat dan menyimpan apa yang dipelajarinya dengan jauh lebih efektif, dibandingkan dengan dengan seekor binatang yang dihukum karena bertingkah laku buruk.

Studi-studi berikutnya menunjukkan bahwa hal yang sama juga berlaku pada manusia. Dengan mengkritik kita tidak membuat perubahan yang langgeng (baca : konsisten) dan justru seringkali malah menimbulkan rasa benci.

Hans selye, seorang psikolog besar berikutnya berpendapat bahwa kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita kepada kritik. Rasa benci yang ditimbulkan oleh kritik dapat menurunkan semangat kerja seseorang, keluarga, maupun kawan-kawan, dan tetap tidak memperbaiki situasi yang dikritik.

Masih ingatkah dengan kisah George B. Johnston dari Enid, Oklahoma (seorang koordinator keamaanan sebuah perusahaan rekayasa). Sebagai seorang koordinator keamanan salah satu tanggung jawabnya adalah memastikan bahwa para bawahannya (baca : pekerja) harus memakai topi pengaman pada saat mereka berada di tempat kerja lapangan. Dia mengindir bahkan mengancam akan melaporkan kepada atasan jika melihat salah satu bawahannya tidak mengenakan topi pengaman. Sang koordinator keamanan tersebut berbicara panjang lebar peraturan yang harus dipatuhi. Hasilnya, dia mendapat penerimaan yang tidak simpatik dari bawahannya (baca : pekerja) yang merasa kesal. Seringkali justru yang terjadi setelah dia pergi adalah para pekerja itu menanggalkan topi-topi mereka.

Melihat kejadian semacam ini, George memutuskan untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Saat berikutnya bila ia menemukan bawahannya (baca : pekerja) yang tidak memakai topi pengaman. Dia lantas menanyakan dengan penuh simpati apakah topi itu tidak nyaman dipakai atau apakah topi itu tidak cukup pas untuk digunakan mereka.

Dia mencoba mengurangi kritik kepada para pekerja, dan membanyak ungkapan halus bernada simpati.Dia mencoba memahamkan kepada para pekerja itu bahwa topi pengaman tersebut dirancang untuk melindungi mereka dari kecelakaan dan menyarankan agar mereka melindungi diri mereka dengan mengenakan topi selama di tempat kerja. Hasilnya, kesadaran untuk mematuhi peraturan terbentuk tanpa rasa benci dan kesal.

Anda akan mendapatkan contoh-contoh tentang kesia-siaan dari kritik dalam ribuan halaman sejarah. Dan anda pula akan menemukan penyesalan sejauh sejarah hidup anda atas kritik-kritik anda yang kurang membangun. Demikianlah bila kritik yang dibangun di dalam kerja tidak sesuai diimplikasikan.
Bagaimana dalam dunia pendidikan anak?

Seperti yang kita kenal, bahwa pendidikan pertama seorang anak adalah keluarganya. Seringkali orang tua (baca : pendidik pertama) secara sengaja maupun tidak sengaja tergoda untuk mengkritik anak mereka. Dengan harapan anak peka dan segera mengembalikan kesadaran anak untuk melakukan suatu hal. Acap pula orang tua mengatakan jangan sebagai ungkapan larangan atau penolakan akan suatu hal tertentu. Tetapi kita tidak sedang hendak mengatakan hal itu. Sebelum berfikir jauh untuk mengkritik mereka (baca : anak). Bacalah junal klasik Amerika yang berjudul "Ayah Juga Lupa".

"Ayah juga lupa" adalah satu dari tulisan-tulisan kecil -- ditulis dengan perasaan tulus -- menggugah hati begitu banyak pembaca sehingga menjadi satu tulisan yang banyak disukai. Sejak munculnya tulisan berjudul "Ayah Juga Lupa" karya W. Livingstone Larned yang juga sebagai seorang ayah lantas banyak para orang tua (baca : ayah) tertampar untuk memikirkan kembali kata-kata yang keluar sebelum diucapkan.
Pembaca kompasiana tentu akan ikut merenung dengan tulisan yang satu ini.

Dengar nak, ayah mengatakan ini  pada saat kau terbaring tidur, sebelum tangan kecil merayap  di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah  menyelinap masuk  seorang diri  ke kamar tidurmu.Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuam sesal yang amay dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.


Ada hal hal yang Ayah pikirkan, Nak ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kai sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau menelan terburu buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoles mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah mengejar kereta api, kau berpaling dan melaimbaikan tangan sambil berseru, "selamat jalan ayah". Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "tegakkan bahumu!".

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu ayah muncul dari jalan. Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmh yang sedang bermain kelereng bercampur lumpur. Ada lubang dikoas kakimu. Ayah memarahimu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaos kaki mahal -- Rusak maka kau akan membelinya, berhati-hatilah! Bayangkan itu keluar dari pikiran seorang Ayah.

Apakah kau ingat nantinya ketika ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan perasaan terluka dalam matamu. Ketika ayah terus memandang koran, tidak sabar dengan gangguanmu, kau jadi ragu di depan pintu.

Kau tidak berkata sepatah kata apapun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah ayah. Kau menaruh tanganmu melingkari leher ayah,dan mencium ayah, tangan mu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat. Laksana kehangatan Tuhan yang telah ditetapkan untuk mekar di hatimu yang bahakan pengabaian sekalipun tidaj akan mampu melemahkan ataupu melayukannya. Dan setelah itu kau kemudian pergi dan menaiki anak tangga.

Setelah kau pergi nak. Sesaat itu koran jatuh dari tangan, rasa takut yang menyakitkan menerpa rasa seorang ayah. Kebiasaan apa yang sudah seorang ayah lakukan. Kebiasaan dalam menemukan kesalahan -- kebiasaan ayah mengkritik -- kebiasaan ayag berteriak pada anaknya. Ayah lakukan ini karena ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun tahun ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hak yang bak dan benar dalam sifatmu. Hati mungilmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spotanmu saat menghambur masuk dan mencium ayah. Tidak ada masalah malam ini.

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah, ayah tahu kau tidak akan mengerti hal hal yang ayah sampaikan seperti ini. Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita dan tertawa bila kau tertawa.

Ayah terlalu khawatir membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun saat ayah memandangmu sekarang meringkuk berbaring dan letih dalam bayi. Kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu masih berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

Tulisan seorang ayah di atas, sebagai ganti ungkapan atas kritik maupun keinginan menuntut serta mencerca seseorang, melainkan mencoba memberikan sebuah pengertian. Berubaha mengerti mengapa seseorang melakukan apa yang dilakukan. Hal itu jauh lebih bermanfaat dan menarik minat daripada kritik, dan melahirkan simpati, toleransi, dan kebaikan hati. "Untuk mengenal semua, kita harus memaafkan semua".

Begitulah sifat manusia, mereka yang bersalah menyalahkan orang lain selain diri mereka sendiri. Kita semua berpotensi melakukan semua itu. Jadi apabila anda dan saya tergoda untuk mengkritik seseorang untuk masa mendatang (sebagai siapapun). Maka ingatlah kedua kisah tetsebut.

Seperti yang dikatakan Dr. Johnson : "Tuhan sendiri tidak menghakimi orang hingga tiba pada akhir hari-harinya"
Mengapa kita (baca : saya dan anda) harus melakukannya?
Prinsipnya adalah kalau ingin mengumpulkan madu, jangan tendang sarang lebahnya

Tuesday, February 14, 2017

Launching Buku Balinesia Karya BKI UIN Sunan Kalijaga

Launching Buku Balinesia Karya BKI UIN Sunan Kalijaga


Pembuatan buku diprakrasai oleh Dewi Purwati Mahasiswi BKI UIN Sunan Kalijaga dengan bantuan Hanif I H. Keduanya telah berhasil mengumpulkan mahasiswa BKI yang studi tour ke Bali menulis semua perjalanannya.

Buku ini bercerita tentang berbagai kisah-kisah yang cukup asik dan unik, mulai dari ulasan informatif yang renyah untuk dibaca, sampai yang sedikit ilmiah dengan sentuhan analisis sekilas yang tidak membosankan. Bahkan hingga sarkasme yang kental dengan bahasa satir yang menggelitik pikiran kita. Tentu memori dan roman yang cukup romantis membuat buku ini cocok dibaca siapa saja. Khususnya bagi yang ingin berkunjung ke Bali.

Buku ini adalah cerita perjalanan para mahasiswa, dosen dan sekelumit kisahku saat mengunjungi pulau Dewata. Memang bagi sebagian orang, apalagi yang sudah pernah singgah ke Bali. Mungkin akan mengganggap buku ini tidak penting. Tetapi kami pastikan bahwa buku ini akan menjadi hiburan, informasi bahkan edukasi bagi yabg lain. Karena di dalamnya terdapat banyak kisah yang diwarnai berbagai corwk dan ilustrasi tulisan yang cukup menggoda untuk dibaca. Di sisi lain, buku ini ditulis oleh beberapa mahasiswa sebagai sebuah larya kompilasi, yang tentunya akan berbeda satu sama lain dalam mengurai cerita berdasarkan hasil pengamatannya di Bali.

Selain itu, sebagai buku karya perdana Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga, buku Balinesia membuktikan terwujudnya sebagai media usaha mahasiswa menuangkan ide dan melatih kreativitasnya dalam menulis. Hal ini sangat positif dilakukan mengingat tergerusnya kreativitas dan bakat menulis mahasiswa.

Buku Balinesia merupakan buku perjalanan yang tidak bersifat menggurui siapa pun (pembaca) melainkan agar semua pembaca dapat memetik serta menikmati hal-hal positif dari setiap perjalanan yang ada. Sesulit apapun rintangan akan begitu mudah dan indah bila di lewati dengan kekuatan cinta dan kebersamaan.

Saturday, May 14, 2016

Berfikir Dewasa



Berfikir Dewasa

Berfikir dewasa itu memang diperlukan dalam kehidupan sosial kita. Berfikir dewasa merupakan fase perkembangan psikologis yang harus dilalui manusia dalam menuju kematangan usia. Namun hal itu bukan berarti kedewasaan hanya dapat diraih pada usia dewasa. Sebab kedewasaan tidaklah mengenal usia, derajat, tahta, pfofesi dll. 

Mengapa? Menurut hemat saya dewasa itu bukanlah hanya sekedar tahap proses lagi, sudah pada tahap mampu menerima dirinya sendiri juga bahkan orang lain, menerima sifat-sifat negatif dan positif dirinya sendiri sekaligus cakap menempatkan posisi dirinya dan merespon dengan baik & benar setiap situasi hidup yang dihadapi, berfikir secara obyektif (bukan lagi subyektif), bukan bertindak atas dasar keinginan saya pribadi tetapi berdasarkan kepentingan umum yang tidak merugikan orang lain sehingga tujuan akhirnya tidak lain dan tidak bukan hanya kebahagiaan (hapinness), kemaslahatan dan keharmonisan tentunya.

Seperti yang saya definisikan diatas, berfikir dewasa tidaklah mengenal usia. Siapapun yang telah mampu mengintegrasikan cara berfikir, cara merespon, cara berbicara, cara bertingkah laku, cara memandang sesuatu obyektif, dan terutama cara menempatkan diri maka seseorang tersebut telah dikatakan berfikir dewasa.

Dari Hurlock “Psikologi Perkembangan” saya menyimpulkan bahwa perkembangan usia dewasa akan mempengaruhi cara berfikir seseorang. Sebagian manusia dewasa yang melampaui tahap perkembangan psikologinya dengan baik maka ia akan berhasil menjadi orang dewasa seutuhnya. Begitu pula sebaliknya, apabila sebagian orang dewasa gagal melampaui tahap perkembangan psikiloginya maka terdapat ketidaksesuaian. Sehingga tak jarang kita mendapati orang dewasa yang masih belum befikir dewasa, padahal usianya telah memasukki masa kematangan (misalnya 35 tahun).

Berfikir dewasa dibutuhkan dalam setiap lini kehidupan. Terlebih dalam urusan relationship (hubungan) dan frienship (persahabatan). Dalam ukuran relationship (hubungan) cakupunya amat luas, seperti hubungan antar warga negara, umat beragama, hubungan kekeluargaan dll. Terkhusus berfikir dewasa menjadi amat diperlukan dalam melihat perbedaan dan fenomena-fenomena yang kian hadir memecah belah ummat. Inilah efek posistif berfikir dewasa yang saya maksudkan, yang kemudian melahirkan sikap toleransi (merespon yang baik dan menempatkan diri dengan benar).

Begitu halnya dalam dunia persahabatan misalnya, berfikir dewasa dapat dilihat ketika sedang menghadapi sebuah masalah. Seseorang dikatakan dewasa akan memilih menyelesaikan masalah serta menjaga sikap dan tidak mengabaikannya. Semakin dewasa bersikap kesabaran secara tidak langsung menjadi bagian sisi kepribadian kita. Inilah efek posistif  berfikir dewasa yang kemudian melahirkan kesabaran (bertindak yang bijak dan benar). Saya sadar bahwa sebuah kemakluman serapi apapun suatu hubungan maupun persahabatan akan ada masa dimana hubungan itu akan berantakan. Disitulah Tuhan menguji kedewasaan kita.

Wednesday, May 11, 2016

Analisis Singkat Teknik-Teknik Pengubahan Tingkah Laku Dalam Film Patch Adams

Selasa 2 Mei 2016 Mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga nobar alias “nonton bareng” film Patch Adam di gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara nobar ini bukanlah acara nobar biasa. Film yang diputarkan pun juga bukan film biasa pula. Acara pemutaran film tersebut berjudul “Patch Adam”. Nobar Film tersebut sengaja dipersembahkan kepada mahasiswa BKI UIN Sunan  Kalijaga ini pada umumnya bertujuan memberikan pencerahan motivasi serta wawasan mahasiswa bagaimana seseorang membantu orang lain dengan cara yang berbeda. Khususnya dalam memberikan gambaran aplikatif terhadap teknik-teknik konseling dan teknik pengubahan tingkah laku. Meski film tersebut ranahnya cenderung kepada kedokteran, disisi lain film tersebut menyentuh peran psikologis yang kental. Ini menjadi hal yang dipertimbangkan penting bagi mahasiswa BKI dalam mengetahui cara –cara sederhana, istimewa, dan berbeda seperti apa yang mampu membantu meningkatkan kualitas psikologis seseorang dengan tepat.
Dalam pemutaran film Patch Adams, mahasiswa diberikan tugas untuk mencermati teknik-teknik koseling yang diperankan Patch Adams. Teknik-teknik tersebut antara lain:
a.       Teknik Aversi
Dengan memberikan kejutan (suntikan) yang menimbulkan rasa tenang. (Adegan pasien dan adams bertemu di satu kamar)
b.      Teknik Analisis Kognitif (REBT)
Pada kisah profesor matematika & industri Amerika Serikat yang mengalami “sindrom kejeniusan”. Akibat sindrom kejeniusan profesor tersebut ia menjadi gila akibat terlalu jenius. Sang profesor terlampu mendalami wilayah falsafah ilmu, hingga apa yang dipikirkannya bukan lagi yang orang biasa pikirkan hingga ia divonis gila. Adams dalam film tersebut memakai teknik analisis kognitif. Analisis Kognitif (REBT) menekankan teknik untuk mengajarkan konseli membuka dan mendebat keyakinan irasional.
c.       Teknik Role Playing (Behavior)
Saat mengatasi trauma salah satu pasien yang sangat takut pada hewan-hewan kecil (kelelawar). Pasalnya pasien tiba-tiba teriak, ketakutan, mencakar-cakar, panik dan histeria. Bahkan tidak pernah mau ke kamar mandi karena trauma pada hewan tersebut. Melalui teknik role playing (bermain peran). Adams belajar menyelami peran sebagaimana ia trauma pada hewan kecil itu. Ia bergaya dan berperan seakan benar-benar menghadirkan secara nyata dan memperlihatkan cara mengusir ketakutan dalam dunia pada trauma tersebut. Artinya Adams melakukan role play tingkah laku baru yang sesuai dengan keyakinan yang rasional.
d.      Assosiasi Bebas (Psikoanalisis)
Saat proses Konseling Kelompok bersama dokter di RS Jiwa. Adams mengasosiasikan kata-kata yang diucapkan, tanpa memperhitungkan baik-buruk, benar-salah.
e.       Teknik Konseling Individu
pendekatan psikologis agar pasien merasa nyaman, kualitas hidupnya meningkat dan lebih berani dalam menghadapi segala kemungkinan dalam hidupnya.
f.       Teknik Penguatan Postif
Teknik ini terdapat pada adegan saat (dokter pengajar) menawarkan sebuah pertanyaan. Adams mengacungkan tangannya dan bertanya: “Siapa nama pasiennya?” “What???” Sang dokter pun bertanya pada perawat dan mencari nama sang pasien beberapa saat baru bisa menjawab pertanyaan Adams.
Dari sini Adams memberikan penguatan positif sebuah dukungan psikologis bahwa pasien tersebut adalah manusia yang punya nama dan harga diri. “Don’t be justismed”.
g.      Teknik Games/Permainan
Pada kesempatan lain Adams melihat anak-anak yang sedang sakit tampak tidak bersemangat. Ia pun menyelinap dan berpura-pura sebagai dokter lalu mengajak anak-anak berkomunikasi, bercerita lucu dan bergaya layaknya badut dengan memakai hidung badut berwarna merah. Hal ini membuat anak-anak tertawa bahagia dan kembali ceria. Tindakan Adams pun mendapat dukungan dari rekan-rekannya terutama setelah Adams berhasil membujuk seorang pasien yang sedang dalam pengawasan temannya yang semula tidak mau makan dan minum obat, menjadi bersemangat lagi sehingga tidak lagi sulit untuk diberikan makanan dan obat. Meskipun mendapat dukungan dari teman-temannya dan kalangan perawat rumah sakit, namun tidak demikian dengan pengajar yang merupakan dokter-dokter senior, berpengalaman dan bergelar profesor.
h.      Menghadirkan Sesuatu yang diinginkan
Memunculkan keinginan-keinginan yang ingin diulang/pernah terjadi untuk dihadirkan kembali saat ini dari masa lalu. Teknik ini terdapat pada saat Adam menanyakan keinginan Madam di RS 
i.        Peran rational terbalik
Teknik ini muncul saat pasien takut untuk menghadapi rasa takut kematian dan menunggu ajal, sehingga ia marah pada siapapun yang berkunjung termasuk pada dokter ataupun suster.

Adams memainkan peran yang memiliki keyakinan irrasional (menjadi seorang babta yesus) dengan menggambarkan (keindahan surga-surga, kematian yang tidak sakit dan manusia akan kembali bahagia bersama Tuhan).

Wednesday, May 4, 2016

Buah Lezat Dari Kisah Dokter Patch Adams

Selasa 2 Mei 2016 Mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga nobar alias “nonton bareng” film Patch Adam di gedung Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara nobar ini bukanlah acara nobar biasa. Film yang diputarkan pun juga bukan film biasa pula. Acara pemutaran film tersebut berjudul “Patch Adam”. Nobar Film tersebut sengaja dipersembahkan kepada mahasiswa BKI UIN Sunan Kalijaga ini pada umumnya bertujuan memberikan pencerahan motivasi serta wawasan mahasiswa bagaimana seseorang membantu orang lain dengan cara yang berbeda. Khususnya dalam memberikan gambaran aplikatif terhadap teknik-teknik konseling. Meski film tersebut ranahnya cenderung kepada kedokteran, disisi lain film tersebut menyentuh peran psikologis yang kental. Ini menjadi hal yang dipertimbangkan penting bagi mahasiswa BKI dalam mengetahui cara –cara sederhana, istimewa, dan berbeda seperti apa yang mampu membantu meningkatkan kualitas psikologis seseorang dengan tepat.
Mungkin sebagian dari kita, tidak banyak mengetahui film berjudul Patch Adam ini, karena memang film ini adalah film lama yang dipublikasikan tahun 1998. Menurut beberapa literatur bacaan yang saya pelajari melalui film maupun buku Patch Adams. Film Patch Adams menceritakan kisah mahasiswa kedokteran bernama Hunter Adams yang diperankan oleh aktor kawakan Robin Williams. Dalam film itu dikisahkan Patch Adams mengalami depresi sehingga ia divonis terkena gangguan jiwa.
Saat dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Patch Adams belajar banyak dari pasien rumah sakit dan bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Ia melihat doktor yang melayani dan menyembuhkan di Rumah Sakit Jiwa tersebut sekedar melaksanakan pengobatan secara medis. Artinya seluruh aktivitas penyembuhan diandalkan oleh bahan-bahan kimiawi. Misalnya obat penenang, obat tidur, obat bius atau penahan rasa sakit. Adams yang mengalami gangguan terhadap depresinya yang membuat ia akhirnya bertemu dengan sekawan penderita gangguan jiwa. Mula-mula ia belajar apa yang sebenarnya dirasakan oleh salah satu penderita gangguan kejiwaan. Ia belajar mengerti bahwa yang dibutuhkan oleh pasien bukanlah obat, mereka butuh didengarkan. Mereka butuh mitra. Mereka butuh diikat inti jiwanya dengan cara yang unik. Keunikan itu terjadi pada kisah profesor matematika & industri Amerika Serikat yang mengalami “sindrom kejeniusan”. Akibat sindrom kejeniusan profesor tersebut ia menjadi gila akibat terlalu jenius. Sang profesor terlampu mendalami wilayah falsafah ilmu, hingga apa yang dipikirkannya bukan lagi yang orang biasa pikirkan hingga ia divonis gila. Adams seolah memberikan nafas baru dalam dunia penanganan pasien gangguan jiwa. Ia bahkan bisa mengatasi trauma salah satu pasien yang sangat takut pada hewan-hewan kecil (kelelawar). Pasalnya pasien tiba-tiba teriak, ketakutan, mencakar-cakar, panik dan histeria. Bahkan tidak pernah mau ke kamar mandi karena trauma pada hewan tersebut. Melalui teknik role playing (bermain peran). Adams belajar menyelami peran sebagaimana ia trauma pada hewan kecil itu. Ia bergaya dan berperan seakan benar-benar menghadirkan secara nyata dan memperlihatkan cara mengusir ketakutan dalam dunia pada trauma tersebut. Dasyat bukan? Pengalaman-pengalaman ini membuat Patch Adams terinspirasi dan bertekad untuk dinyatakan sembuh agar bisa melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran demi bisa membantu orang lain yang sedang bermasalah kesehatannya. Meskipun usianya dan perawakannya terlihat sudah tidak sesuai sebagai mahasiswa tingkat pertama fakultas kedokteran, namun Patch Adams sangat antusias dan selalu bersemangat dalam belajar. Terlebih lagi ternyata Adams termasuk mahasiswa jenius yang bisa dengan cepat memahami materi yang diberikan para dosen. Selain itu, Adams juga telah memiliki pemahaman tersendiri bahwa mengobati pasiens tidak cukup hanya dengan pendekatan medis, namun juga perlu pendekatan psikologis agar pasien merasa nyaman, kualitas hidupnya meningkat dan lebih berani dalam menghadapi segala kemungkinan dalam hidupnya. Adams berpendapat bahwa “A doctor’s mission shoud be not just to prevent death, but also to improve the quality of life”. Tujuan seorang dokter tidak hanya menyembuhkan pasien atau mencegah kematian, tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kekritisan Adams sebagai mahasiswa kedokteran seringkali membuat dokter-dokter pengajar kebingungan. Salah satunya saat mengamati sang dokter yang sedang memeriksa pasien-pasien di rumah sakit. Dokter pengajar memberitahukan pada mahasiswa penyakit pasien dan tindakan-tindakan yang dilakukannya. Namun sang dokter tidak menyebut nama si pasien melainkan hanya nomor identitas pasien yang diberikan oleh Rumah Sakit. Saat dokter pengajar menawarkan adakah pertanyaan, Adams mengacungkan tangannya dan bertanya: “Siapa nama pasiennya?” “What???” Dokter pengajar tampak linglung lalu meminta Adams mengulangi pertanyaannya. Sang dokter pun bertanya pada perawat dan mencari nama sang pasien beberapa saat baru bisa menjawab pertanyaan Adams. Dari sini Adams ingin mengingatkan bahwa pasien tersebut adalah manusia yang punya nama dan harga diri, bagaimana dokter bisa berusaha optimal memberikan pelayanan demi kesembuhan pasien bila menyebut nama pasien pun tidak terpikirkan. Dokter Patch Adam memberikan pelayanan.
Pada kesempatan lain Adams melihat anak-anak yang sedang sakit tampak tidak bersemangat. Ia pun menyelinap dan berpura-pura sebagai dokter lalu mengajak anak-anak berkomunikasi, bercerita lucu dan bergaya layaknya badut dengan memakai hidung badut berwarna merah. Hal ini membuat anak-anak tertawa bahagia dan kembali ceria. Tindakan Adams pun mendapat dukungan dari rekan-rekannya terutama setelah Adams berhasil membujuk seorang pasien yang sedang dalam pengawasan temannya yang semula tidak mau makan dan minum obat, menjadi bersemangat lagi sehingga tidak lagi sulit untuk diberikan makanan dan obat. Meskipun mendapat dukungan dari teman-temannya dan kalangan perawat rumah sakit, namun tidak demikian dengan pengajar yang merupakan dokter-dokter senior, berpengalaman dan bergelar profesor.
Adams akhirnya disidang untuk memutuskan apakah ia akan tetap diijinkan kuliah ataukan di keluarkan (drop out/DO). Adam mengumpulkan teman-teman yang mendukungnya dan beberapa pasien yang kondisinya membaik bahkan sembuh berkat bantuannya. Patch Adams melakukan pembelaan diri dengan sangat baik dan tidak bisa dibantah oleh para dokter senior dan profesor yang tidak suka padanya.
Setelah lulus dan menjadi dokter, Adams dan teman-temannya yang seide mendirikan klinik “Gesundheit” untuk bisa melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan pendekatan yang berbeda dari dokter-dokter dan rumah sakit lain pada umumnya. Pendekatannya pada kemanusiaan, komunikasi, empati namun tetap mengedepankan etika, profesionalisme dan kompetensi seorang dokter.
Klinik yang kemudian menjadi rumah sakit ini ternyata sukses besar dan menjadi buah bibir masyarakat karena pendekatan pelayanannya yang sangat memuaskan pasien. Dan yang amat menakjubkan rumah sakit Patch Adams saat ini masih ada. Hal ini membuat dokter-dokter lain tertarik untuk bergabung dan belajar metode yang diterapkan dokter Patch Adams dan rekan-rekannya. Para dokter yang ingin bergabung tersebut rela meninggalkan pekerjaannya yang sudah stabil di rumah sakit atau klinik terkenal. Saking banyaknya yang ingin bergabung, mereka harus bersabar antri di daftar tunggu menunggu giliran bergabung di Gesundheit. Gesundheti menjadi tempat perawatan favorit masyarakat dimana kesembuhan dan kualitas hidup bisa didapatkan secara bersama-sama karena dokter-dokter dan petugas kesehatannya mengerti bagaimana memberikan pelayanan yang manusiawi dan berempati.

Sunday, April 12, 2015

Mendidik Tidak Bisa Mendadak



Mendidik Tidak Bisa Mendadak
Oleh : Dewi Purwati

Praaaang…..!  Sebuah gelas meluncur dari tangan anak ke lantai dan dala, sekejap pecah berkeping-keping.
Sejenak  anak akan tertuntuk dengan wajah ketakukan dan tidak berani memandang wajah bundanya? Pernahkan teman-teman mengalami hal yang seperti dewi ilustrasikan? Saya menjawab, saya pernah mengalami hal tersebut. Saat itu saya masih kelas 2 SD mungkin,,masih ingat sekali ketika tidak sengaja memecahkan gelas hiasan dirumah. Entahlah atas dasar keinginan apa aku ingin mengambil kunci dari lemari umi untuk membuka lemari hiasan yang berisi gelas hias itu. Imajinasiku saat itu hanya ingin bermain pasar-pasaran ^_^ pasar-pasaran adalah sebuatan permaianan tradisional untuk perempuan kecil usia dini bagi Orang Jawa. Biasanya permaianan ini berisi aktivitas masak-masakan, memainkan peran (role play) seperti menjadi sosok orang dewasa.
Kembali dengan gelas hias tersebut, aekhirnya aku berhasil mengmbil kuncinya. Setelah kunci tersebut berada ditanganku, dengan segera aku menuju lemari hias. Di depan lemari hias aku sudah memandang berbinar mainan yang aku angankan…hehe. Setelah mencoba memilih satu kunci untuk membuka lemari. Ternyata kunci pertama adalah kunci yang tepat. Senang buka kepayang saat itu rasanya. Akupun membuka lemari itu dan mengeluarkannya dari lemari. Dalam hati umi sedang mencuci baju asyik bisa maianan pasar-pasaran dengan gelas ini,,,mungkin begitu ilustrasi hati saya saat itu ^_^
Setelah berhasil mengambil dan terpenuhi rasa penasaran bermain gelas itu…tiba-tiba gelas hias tersebut jatuh saat aku berlari-lari membawanya. Praaaaaang……! Sebuah gelas cantik yang kupegang jatuh L aku takut….aku diam seketika. Umi yang mendengar suara pecahkan itu datang ke depan pintu.
Aku sangat takut ,,, aku tidak berani memandang umi saat itu. Rasanya pasti kali ini umi akan menjewerku, pasti aku akan dipukul karena aku kali ini benar-benar nakal dan berani mengambil gelas hias itu tanpa izin ummi padahal gelas itu mahal. Rasanya aku ingin menangis meskipun umi belum berkata-kata apapun.
Saat mulai meneteskan air mata sambil menunduk. Umi berkata : oh…pecah ya ….. Umi boleh membersihkan pecahannya?
Seketika aku senang dan berbinar-binar umi tidak marah tanpa menyuruhku untuk membersihkan pecahannya.
Setelah aku dewasa aku mulai mengerti dan mengambil pelajaran, ungkapan bahasa itu adalah cara yang terbaik dalam mendidik anak.
Saat kita kelak memiliki putra atau putri, tentu pengalaman yang saya alami mungkin bisa saja terjadi. Akan lebih baik seharusnya umi saat itu mengajakku untuk membersihkan pecahan-pecahan gelasnya. Namun saat itu umi tidak mengajakku untuk membersihkan pecahnya.
Sebab alasannya sangat sederhana, yakni mengajak merefleksikan diri atas kejadian tersebut. Dan mengajak diskusi saat ia merasa menunduk dan bersalah. Bukan dengan menyalahkan tetapi dapat membatu dengan kalimat diskusi : yang pertama, pastikan anak menggunkan sandal jepit terlebih dahulu sebelum diajak bersama-sama membersihkan, perintah anak untuk mengambil pecahan gelas yang tidak tajam bersama ibu sambil mengajak diskusi sang anak :“Nah….menurut adik, pelajaran apa yang dapat diambil dari pecahnya gelas tadi?”
Jika anak belum punya ide, mungkin kita bisa membantu  dengan menginspirasi. Misalnya dengan bertanya: ”Tangan adik basah nggih waktu memegang gelas” (“Apakah tangan adik basah ya saat memegang gelas?” ) atau kalimat lainnya. Tentu anak akan menjawab dan luluh dengan pertanyaan diskusi seperti ini. Atau bisa seperti ini : Sudah, bunda tidak marah .… adik sudah bagus mau membereskan, hanya lain kali harus sedikit hati-hati ya bagaimana setuju ? ”. Buat anak untuk  mengikat dengan persetujuan ^_^. Tentu anak akan menjawab : “Setuju ummi “
Jangan lupa peluk dan ingatkan anak setelah itu. Sangat tidak dianjurkan untuk menyampaikan kata-kata yang kasar seperti “Makanya kalau pegang gelas hati-hati doooong!!!! Atau “Makanya….hati hati dong ! ataupun berkata seperti ini. “Kok bisa pecah siiii… mau dijewer!”
Memang tidak mudah tapi mendidik tidak bisa mendadak. Sudah saatnya merubah pola asuh yang lebih bak. Dan yang perlu harus kita ketahui sebagai manusia yang dewasa adalah bahwa kejadian seperti gelas pecah, merupakan kejadian yang tidak sengaja meskipun anak nakal sehingga tidak ada niatan sedikit pun dari anak untuk melakukannya apalagi untuk memecahannya. Bahkan mungkin bisa jadi seperti kasus saya karena saya kagum ingin bermain dan memengan gelas hias tadi. Tentu itu adalah perasaan naluriah anak yakni senang dengan segala sesuatu yang menarik.
Beberapa catatan bunda yang perlu diingat kembali setelah kejadian itu berlangsung adalah ^_^
Ø  Berikan pelukan  ^_^ ingat pelukan yang terhangat dan ciuman sayang kepada anak, sambil mengungkapkan kalimat-kalimat positif. Yakinlah bunda…buah hatimu tidak berniat melakukan hal itu
Ø  Tidak perlu mengungkit-ungkit kejadian tersebut di masa yang akan datang. Kalaupun itu terulang kembali, lakukan penanganan dengan cara yang sama. Ingat tidak dengan marah-marah dan sewot ^_^ Bukankah seorang penari piring membutuhkan banyak sekali latihan supaya piring-piring yang dibawa tidak jatuh bunda?
Ø  Ketika orang tua lebih memilih menolong dibanding mengomel, kelak anak akan menemui permasalahan dlam hidupnya, dia akan lebih memilih mencari solusi dibanding mengeluh atau marah-marah.

Ilustrasi Inspiratif



Ilustrasi Inspiratif
Oleh      : Dewi Purwati

Semoga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari ilustrasi yang pendek ini, oleh-oleh thalabul ilmi ^_^
Seorang anak kecil mengeluh kepada ayahnya karena sifatnya yang suka marah. Jika ia kurang suka dengan sikap temannya, marah apabila digoda teman-temannya, bertengkar dengan kakak adiknya, ngambek, apapun yang tidak sesuai dengan kata hati dan keinginannya, ia marah. Sang ayah menghadiahkan sekotak paku dan palu kepada anak tersebut.
Ayah berkata kepada anak tersebut,”Jika kamu marah, tahanlah kemarahan itu dengan memaku satu paku saja didi(sambil menunjuk kearah dinidng ) dan setiap kamu marah lagi pakul agi  satu lagi pada dinding itu.
Akhirnya anak itupun menjalani kehidupannya. Setiap kali marah, ia pun memaku dinding dengan satu paku. Sampai akhirnya anak tersebut bisa mengendalikan diri untuk tidak marah lagi. Dia merasa capek karena setiap kali marah harus memaku dinding halaman tersebut.
Setelah bisa mengendalikan sifat marahnya, ayahnya berkata,” Setiap kali kamu bisa menahan marah, cabutlah satu paku yang telah kamu tempelkan di dinding halaman”
Sang anak pun beruasaha untuk dapat menahan marahnya setiap hari dan setiap kali ia menahan marahnya ia mencabut paku tersebut. Akhirnya, di dinding tersebut tidak ada paku sedikit pun.
Setelah tidak ada paku yang menempel di dinding, anak tersebut berkata kepada ayahnya bahwa ia sudah dapat menahan marahnya.
Setelah mengaduan anaknya, sang ayah pun mengajak anak tersebut untuk mengamati dinding yang sudah tidak ada pakunya sambil berkata,”Lihatlah apa yang terjadi dengan dinding halaman itu anakku”.
Dahulu dinding itu bersih dan tidak ada kotoran atau lubang, tetapi  lihatlah sekarang, saat ini di dinding itu sudah banyak lubang bekas paku yang engkau tempelkan. Apa yang kau lihat anakku?
Sang anak belum begitu mengerti apa maksud dari sang ayah. Ayahpun merangkul sang anak dan berkata,” Adakah bekasannya padahal kau telah mencabut seluruh paku dari dinding itu? Anak menjawab,”Iya ayah berbekas lubang dalam sekali” Pelajaran yang berharga bahwa janganlah suka marah karena bisa jadi kemarahan kita akan membekas pada diri orang yang kita marahi tersebut.
Ayah adalah sosok pria  hebat yang begitu dekat dengan anak setelah ibunya. Dari ayah anak belajar menjadi manusia yang dewasa. Belajar menjadi seorang pemimpin, mau bertanggung jawab dan displin. Berfikir secara logis dan rasinonal. Bukan berarti berambisi memenuhi nafsu. Namun berjalan dengan hati nurani & value. Demikian pentingnya sosok seorang ayah dalam sebuah rumah tangga.
Wallahu’alam