Ilustrasi Inspiratif
Oleh : Dewi Purwati
Oleh : Dewi Purwati
Semoga banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari ilustrasi
yang pendek ini, oleh-oleh thalabul ilmi ^_^
Seorang anak kecil mengeluh kepada ayahnya karena
sifatnya yang suka marah. Jika ia kurang suka dengan sikap temannya, marah
apabila digoda teman-temannya, bertengkar dengan kakak adiknya, ngambek, apapun
yang tidak sesuai dengan kata hati dan keinginannya, ia marah. Sang ayah
menghadiahkan sekotak paku dan palu kepada anak tersebut.
Ayah berkata kepada anak tersebut,”Jika kamu marah,
tahanlah kemarahan itu dengan memaku satu paku saja didi(sambil menunjuk kearah
dinidng ) dan setiap kamu marah lagi pakul agi
satu lagi pada dinding itu.
Akhirnya anak itupun menjalani kehidupannya. Setiap kali
marah, ia pun memaku dinding dengan satu paku. Sampai akhirnya anak tersebut
bisa mengendalikan diri untuk tidak marah lagi. Dia merasa capek karena setiap
kali marah harus memaku dinding halaman tersebut.
Setelah bisa mengendalikan sifat marahnya, ayahnya
berkata,” Setiap kali kamu bisa menahan marah, cabutlah satu paku yang telah
kamu tempelkan di dinding halaman”
Sang anak pun beruasaha untuk dapat menahan marahnya
setiap hari dan setiap kali ia menahan marahnya ia mencabut paku tersebut.
Akhirnya, di dinding tersebut tidak ada paku sedikit pun.
Setelah tidak ada paku yang menempel di dinding, anak
tersebut berkata kepada ayahnya bahwa ia sudah dapat menahan marahnya.
Setelah mengaduan anaknya, sang ayah pun mengajak anak
tersebut untuk mengamati dinding yang sudah tidak ada pakunya sambil
berkata,”Lihatlah apa yang terjadi dengan dinding halaman itu anakku”.
Dahulu dinding itu bersih dan tidak ada kotoran atau
lubang, tetapi lihatlah sekarang, saat
ini di dinding itu sudah banyak lubang bekas paku yang engkau tempelkan. Apa
yang kau lihat anakku?
Sang anak belum begitu mengerti apa maksud dari sang
ayah. Ayahpun merangkul sang anak dan berkata,” Adakah bekasannya padahal kau
telah mencabut seluruh paku dari dinding itu? Anak menjawab,”Iya ayah berbekas
lubang dalam sekali” Pelajaran yang berharga bahwa janganlah suka marah karena
bisa jadi kemarahan kita akan membekas pada diri orang yang kita marahi
tersebut.
Ayah adalah sosok pria
hebat yang begitu dekat dengan anak setelah ibunya. Dari ayah anak
belajar menjadi manusia yang dewasa. Belajar menjadi seorang pemimpin, mau
bertanggung jawab dan displin. Berfikir secara logis dan rasinonal. Bukan
berarti berambisi memenuhi nafsu. Namun berjalan dengan hati nurani &
value. Demikian pentingnya sosok seorang ayah dalam sebuah rumah tangga.
Wallahu’alam
No comments:
Post a Comment