Mendidik Tidak Bisa Mendadak
Oleh : Dewi Purwati
Oleh : Dewi Purwati
Praaaang…..!
Sebuah gelas meluncur dari tangan anak ke lantai dan dala, sekejap pecah
berkeping-keping.
Sejenak anak akan
tertuntuk dengan wajah ketakukan dan tidak berani memandang wajah bundanya? Pernahkan
teman-teman mengalami hal yang seperti dewi ilustrasikan? Saya menjawab, saya
pernah mengalami hal tersebut. Saat itu saya masih kelas 2 SD mungkin,,masih
ingat sekali ketika tidak sengaja memecahkan gelas hiasan dirumah. Entahlah
atas dasar keinginan apa aku ingin mengambil kunci dari lemari umi untuk
membuka lemari hiasan yang berisi gelas hias itu. Imajinasiku saat itu hanya
ingin bermain pasar-pasaran ^_^ pasar-pasaran adalah sebuatan permaianan
tradisional untuk perempuan kecil usia dini bagi Orang Jawa. Biasanya
permaianan ini berisi aktivitas masak-masakan, memainkan peran (role play)
seperti menjadi sosok orang dewasa.
Kembali dengan gelas hias tersebut, aekhirnya aku berhasil
mengmbil kuncinya. Setelah kunci tersebut berada ditanganku, dengan segera aku
menuju lemari hias. Di depan lemari hias aku sudah memandang berbinar mainan
yang aku angankan…hehe. Setelah mencoba memilih satu kunci untuk membuka
lemari. Ternyata kunci pertama adalah kunci yang tepat. Senang buka kepayang
saat itu rasanya. Akupun membuka lemari itu dan mengeluarkannya dari lemari.
Dalam hati umi sedang mencuci baju asyik bisa maianan pasar-pasaran dengan
gelas ini,,,mungkin begitu ilustrasi hati saya saat itu ^_^
Setelah berhasil mengambil dan terpenuhi rasa penasaran bermain
gelas itu…tiba-tiba gelas hias tersebut jatuh saat aku berlari-lari membawanya.
Praaaaaang……! Sebuah gelas cantik yang kupegang jatuh L aku takut….aku diam seketika.
Umi yang mendengar suara pecahkan itu datang ke depan pintu.
Aku sangat takut ,,, aku tidak berani memandang umi saat
itu. Rasanya pasti kali ini umi akan menjewerku, pasti aku akan dipukul karena
aku kali ini benar-benar nakal dan berani mengambil gelas hias itu tanpa izin
ummi padahal gelas itu mahal. Rasanya aku ingin menangis meskipun umi belum
berkata-kata apapun.
Saat mulai meneteskan air mata sambil menunduk. Umi berkata
: oh…pecah ya ….. Umi boleh membersihkan pecahannya?
Seketika aku senang dan berbinar-binar umi tidak marah tanpa
menyuruhku untuk membersihkan pecahannya.
Setelah aku dewasa aku mulai mengerti dan mengambil
pelajaran, ungkapan bahasa itu adalah cara yang terbaik dalam mendidik anak.
Saat kita kelak memiliki putra atau putri, tentu pengalaman
yang saya alami mungkin bisa saja terjadi. Akan lebih baik seharusnya umi saat
itu mengajakku untuk membersihkan pecahan-pecahan gelasnya. Namun saat itu umi
tidak mengajakku untuk membersihkan pecahnya.
Sebab alasannya sangat sederhana, yakni mengajak
merefleksikan diri atas kejadian tersebut. Dan mengajak diskusi saat ia merasa
menunduk dan bersalah. Bukan dengan menyalahkan tetapi dapat membatu dengan
kalimat diskusi : yang pertama, pastikan anak menggunkan sandal jepit terlebih
dahulu sebelum diajak bersama-sama membersihkan, perintah anak untuk mengambil
pecahan gelas yang tidak tajam bersama ibu sambil mengajak diskusi sang anak :“Nah….menurut
adik, pelajaran apa yang dapat diambil dari pecahnya gelas tadi?”
Jika anak belum punya ide, mungkin kita bisa membantu dengan menginspirasi. Misalnya dengan
bertanya: ”Tangan adik basah nggih waktu memegang gelas” (“Apakah tangan
adik basah ya saat memegang gelas?” ) atau kalimat lainnya. Tentu anak akan
menjawab dan luluh dengan pertanyaan diskusi seperti ini. Atau bisa seperti ini
: Sudah, bunda tidak marah .… adik sudah bagus mau membereskan, hanya lain
kali harus sedikit hati-hati ya bagaimana setuju ? ”. Buat anak untuk mengikat dengan persetujuan ^_^. Tentu anak
akan menjawab : “Setuju ummi “
Jangan lupa peluk dan ingatkan anak setelah itu. Sangat
tidak dianjurkan untuk menyampaikan kata-kata yang kasar seperti “Makanya kalau
pegang gelas hati-hati doooong!!!! Atau “Makanya….hati hati dong ! ataupun
berkata seperti ini. “Kok bisa pecah siiii… mau dijewer!”
Memang tidak mudah tapi mendidik tidak bisa mendadak. Sudah
saatnya merubah pola asuh yang lebih bak. Dan yang perlu harus kita ketahui
sebagai manusia yang dewasa adalah bahwa kejadian seperti gelas pecah,
merupakan kejadian yang tidak sengaja meskipun anak nakal sehingga tidak ada
niatan sedikit pun dari anak untuk melakukannya apalagi untuk memecahannya.
Bahkan mungkin bisa jadi seperti kasus saya karena saya kagum ingin bermain dan
memengan gelas hias tadi. Tentu itu adalah perasaan naluriah anak yakni senang
dengan segala sesuatu yang menarik.
Beberapa catatan bunda yang perlu diingat kembali setelah
kejadian itu berlangsung adalah ^_^
Ø
Berikan pelukan ^_^ ingat pelukan yang terhangat dan ciuman
sayang kepada anak, sambil mengungkapkan kalimat-kalimat positif. Yakinlah
bunda…buah hatimu tidak berniat melakukan hal itu
Ø
Tidak perlu
mengungkit-ungkit kejadian tersebut di masa yang akan datang. Kalaupun itu
terulang kembali, lakukan penanganan dengan cara yang sama. Ingat tidak dengan
marah-marah dan sewot ^_^ Bukankah seorang penari piring membutuhkan banyak
sekali latihan supaya piring-piring yang dibawa tidak jatuh bunda?
Ø
Ketika orang tua lebih
memilih menolong dibanding mengomel, kelak anak akan menemui permasalahan dlam
hidupnya, dia akan lebih memilih mencari solusi dibanding mengeluh atau
marah-marah.
No comments:
Post a Comment